✨ Chasing Aurora in Tromsø & Tennskjær, Norway 🇳🇴

 1. Why Norway in January?

Trip ini sebenarnya berawal dari sesuatu yang simple : birthday wish 🎂

Karena Januari adalah bulan ulang tahunku, aku meminta suami untuk merayakan ulang tahun ku di Norway aka birthday trip di Norway.


Sejak tahun lalu aku punya semacam personal goal kecil : aku ingin mengunjungi 1 negara baru di setiap ulang tahunku.
Mumpung masih muda, belum punya anak, masih punya energi untuk explore dunia sedikit demi sedikit.

Keinginan ini bermula ketika suami harus melakukan Business Trip ke Turki 2tahun lalu saat ulang tahunku. Dia tidak ingin melewatkan hari kelahiranku dan dia memintaku untuk ikut sekalian merayakan ulang tahunku disana. Aku pikir juga aku belum pernah berlibur ke Turki (hanya transit di Istanbul beberapa kali, jadi tidak ku hitung).

Jadi tahun ini rasanya seru kalau birthday trip ini benar2 direncanakan dari awal.

The second reason: Aurora
Beberapa bulan sebelum trip ini, aku kebetulan melihat sebuah reel yang lewat di explore page yang mengatakan bahwa Aurora Borealis sedang berada di salah satu fase paling terang dalam siklusnya.
Aurora memang mengikuti solar cycle sekitar 11 tahun, di mana aktivitas matahari naik turun. Tahun2 sekitar puncak siklus biasanya memberi peluang aurora yang lebih kuat dan lebih sering terlihat.
Menurut informasi yang beredar saat itu, aurora sedang berada di fase yang sangat aktif dan kemungkinan akan lebih meredup dalam beberapa tahun ke depan sebelum siklus berikutnya.
So naturally, aku langsung berpikir:
    "kalau mau lihat aurora, maybe sekarang adalah waktu yang tepat."

Winter... yang ternyata lebih dingin dari ekspektasi
Yang tidak kita duga, ternyata tahun ini juga menjadi salah satu periode winter yang cuku ekstrem di beberapa bagian Norway. Temperatur bisa turun sampai sekitar -20°C di beberapa malam.
Aber ehrlich gesagt...
justru itu yang membuat pengalaman aurora hunting terasa lebih real.
Cold air, dark sky, snow everywhere, dan tiba-tiba langit mulai bergerak dengan warna hijau.
Moment seperti itu benar-benar sulit dijelaskan dengan foto saja.

2. Booking Flights ✈️ (Tips yang ternyata works)

Honestly, salah satu hal yang paling membantu menekan budget trip ini adalah cara kita cari tiket pesawat. Biasanya aku compare harga di beberapa platform, tapi kali ini aku juga coba pakai Incognito untuk cek price pattern. Dari situ aku mulai notice sesuatu yang cukup menarik:
harga flight sering lebih murah kalau booking weekday, terutama Selasa dan Rabu pagi.
Setelah beberapa kali compare dengan hari lain (weekend dan Monday), gap harganya bisa sampai sekitar 200 euros. Lumayan banget.
Akhirnya kita dapat tiket €416 return lewat CheapTickets, yang menurutku cukup reasonable untuk winter trip ke Tromsø. Sedangkan paling murah yang aku temukan sebelumnya sekitar 600 euros PP Berlin-Tromso 2 orang.

🎒 Little mistake I made (lesson learned)

Karena waktu itu aku booking lumayan pagi dan agak terburu-buru, ada satu hal kecil yang ternyata kelewat.
Dengan pertimbangan winter trip = baju tebal + thermal + boots, kita memutuskan untuk beli checked baggage 23kg.
Tapi ternyata setelah booking selesai aku baru sadar:
Aku hanya menambahkan check-in baggage untuk flight dari Tromsø ke Berlin, sedangkan untuk flight Berlin ke Tromsø belum ada bagasi sama sekali.
Classic travel mistake 😅

Akhirnya aku harus beli bagasi tambahan langsung lewat airline, yaitu Norwegian Air Website.
Harganya sekitar €40 untuk 2 bagasi dari Berlin ke Tromsø, yang sebenarnya masih cukup oke untuk route internasional. Maskapai seperti Norwegian memang sering menjual tiket basic tanpa bagasi, jadi bagasi biasanya ditambahkan sebagai optional service.

🏠 3. Booking Accommodation (strategy matters more than aesthetics)
Setelah tiket pesawat akhirnya booked, hal berikutnya yang langsung jadi fokus adalah:
menentukan di mana kita akan tinggal.
Karena sejujurnya, untuk winter trip seperti ini, accommodation bukan cuma soal tempat tidur.
Lokasi dan tipe tempat tinggal bisa sangat menentukan apakah perjalanan terasa smooth… atau malah jadi sedikit merepotkan.
Apalagi setelah melihat detail flight kami.
Pesawat berangkat dari Berlin malam hari dan flight pulang pagi sekali.
Dengan kondisi winter, salju, dan kemungkinan transport yang lebih terbatas, kami akhirnya memutuskan satu strategi sederhana:
menginap dekat bandara di awal dan akhir perjalanan.
Jadi untuk:
  • malam pertama saat tiba
  • dan dua malam terakhir sebelum pulang

kami memilih stay yang lokasinya tidak jauh dari airport.

Karena total trip ini sekitar 10 malam, rasanya lebih tenang kalau bagian awal dan akhir perjalanan dibuat semudah mungkin.


Short Stay: dekat airport
Karena aku kebetulan member Marriott Bonvoy, kami memutuskan menginap di
Moxy Tromsø.
Saat itu poin yang dibutuhkan cukup reasonable, jadi kami memilih redeem points dibanding membayar langsung dengan currency.
Untuk 3 malam, totalnya sekitar 500 euro jika dihitung dari poin yang kami gunakan.
Sedangkan kalau bayar normal, rate hotel saat itu sekitar 200 euro per malam yang untuk winter destination seperti Tromsø sebenarnya cukup umum.
Menggunakan poin terasa jauh lebih worth it, dan juga memberi sedikit buffer di budget untuk aktivitas lain selama trip.


🌌 Long Stay: chasing darker skies

Untuk sisa malam lainnya, kami ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

Setelah cukup banyak research tentang aurora, ada satu hal yang hampir semua orang sebutkan:

selain faktor keberuntungan dan kondisi awan, lokasi juga sangat berpengaruh.

Aurora sebenarnya tidak harus dilihat semakin ke utara agar semakin jelas.

Yang jauh lebih penting adalah menjauh dari light pollution.

Selama masih berada di area Arctic Circle dan langit cukup gelap, peluang melihat aurora tetap ada.

Karena itu kami memutuskan untuk tinggal di Airbnb yang agak jauh dari Tromsø city.

Alasannya sederhana:

  • langit lebih gelap
  • suasana lebih tenang
  • dan terasa lebih “Arctic”.

🛖 Our Airbnb experience

Aku menemukan satu Airbnb yang cukup menarik di Tennskjaer :

  • lokasi langsung menghadap pelabuhan
  • suasana sangat quiet
  • dan ada jacuzzi outdoor yang bisa dipakai gratis.
Karena kami tinggal 7 malam, ada discount long stay dari host.
Total yang kami bayar sekitar 700 euro untuk seminggu.
Untuk Norway, itu termasuk cukup reasonable.
Selain itu host nya sangat helpful, membantu kami untuk stocking makanan selama kami stay mengingat tempatnya cukup jauh dari mana2.
Awalnya kami membayangkan akan banyak slow moments di sini:
duduk santai, lihat laut, mungkin aurora muncul di atas pelabuhan.
Sounds perfect, right?


🤍 The host who made it easier
Salah satu hal yang membuat pengalaman tinggal di sini jauh lebih menyenangkan adalah pemilik Airbnb-nya yang sangat baik.
Karena lokasinya cukup jauh dari kota dan tidak terlalu dekat dengan supermarket, beliau bahkan menawarkan untuk mengantar kami belanja ketika pertama kali tiba.
Dan yang membuat kami benar-benar terkejut adalah dia tidak meminta bayaran sama sekali.
Di tempat yang cukup remote seperti itu, gesture kecil seperti ini terasa sangat berarti.
Kami bisa membeli groceries untuk beberapa hari tanpa harus bingung memikirkan transport di tengah suhu dingin dan jalanan bersalju.
Sometimes the best part of traveling is not the place itself,
but the kindness of people you meet along the way.

…until reality kicked in

Ada satu hal kecil yang ternyata baru benar-benar terasa setelah beberapa hari.

Lokasinya memang sangat indah.

Tapi juga sangat jauh dari mana-mana.

Awalnya kami pikir tidak masalah, karena tujuan awal memang ingin slow travel.

Tapi setelah beberapa hari, rasa penasaran mulai muncul lagi.

Kami ingin explore lebih banyak.

Dan saat itu baru terasa bahwa tinggal terlalu jauh dari kota punya konsekuensi tersendiri.

Beautiful? Yes.
Peaceful? Also yes.

Tapi ternyata… kami juga bukan tipe traveler yang bisa diam di satu tempat terlalu lama.

Dan dari situ pelan-pelan ritme perjalanan kami mulai berubah.


4. Planning Reality Check (when excitement meets reality)

Setelah tiket finally booked, excitement itu bertahan sekitar… dua hari.
Setelah itu masuk fase yang aku sebut sebagai:
Google rabbit hole era

Aku mulai search semuanya:
cuaca Januari di Tromsø, daylight hours, aurora forecast, thermal layering, sampai hal-hal random sepertihow slippery is snow actually?

Dan dari situ aku baru sadar satu hal penting yang sebelumnya hampir tidak kepikiran:
Tromsø berada di dalam Arctic Circle.
Artinya di bulan Januari mereka sedang mengalami Polar Night, periode di mana matahari hampir tidak benar-benar terbit.
Bukan berarti gelap total 24 jam, tapi lebih seperti eternal twilight.
Sekitar jam 10–11 pagi langit berubah menjadi biru keabu-abuan, seperti sunset yang sangat lama.
Lalu sekitar jam 2 siang… perlahan gelap lagi.

Honestly, awalnya aku agak bingung membayangkan ritme harinya.
Di Berlin kita terbiasa dengan daylight normal, sementara di sini rasanya seperti hidup di antara sunset yang tidak pernah selesai.
Ehrlich gesagt, itu terasa sedikit surreal tapi juga menarik.
Karena atmosfernya jadi sangat cinematic.
Salju di mana-mana, lampu kota menyala hampir sepanjang hari, dan langit selalu punya warna yang lembut.
Tapi ada satu hal lain yang ternyata jauh lebih praktis… dan sedikit merepotkan.
Winter logistics.
Hal yang tidak terlalu dipikirkan saat melihat foto-foto Norway yang aesthetic adalah: jalanan bersalju tidak selalu mulus.

Beberapa trotoar tertutup snow layer, sebagian lagi es tipis yang hampir tidak terlihat.
Dan saat membayangkan harus menarik koper di atas permukaan seperti itu, aku baru sadar:
    "oh… ini bisa jadi mini adventure sendiri."

Apalagi dengan winter packing yang volumenya lumayan serius.
    - Thermal layers.
    - Boots.
    - Jacket tebal.
    - Wool socks.

Koper yang biasanya terasa ringan untuk city trip tiba-tiba terasa jauh lebih berat ketika harus ditarik di atas salju yang crunchy dan kadang tidak rata.
Saat itu aku mulai berpikir:
    "mungkin perjalanan ini tidak akan selalu terlihat seperti di Instagram."


But somehow… that’s exactly what makes it interesting.
Karena trip seperti ini bukan cuma tentang destination.
Tapi juga tentang hal-hal kecil yang tidak kita bayangkan sebelumnya seperti menyeret koper di tengah udara minus derajat, di kota kecil di Arctic Circle.
Dan ternyata… itu baru permulaan dari cerita winter trip kami.

5. Packing for Arctic Winter (fashion ends where survival begins)

Packing untuk winter di Norway ternyata jauh lebih challenging dibanding booking flight.
Karena pertanyaannya bukan lagi:
    "Outfit apa yang cute di foto?"
Tapi berubah menjadi:
    "Outfit apa yang membuat kita tetap hangat dan functioning sebagai manusia?😅"

Awalnya aku pikir cukup bawa:
    - winter coat
    - sweater lucu
    - boots
Spoiler alert: tidak sesederhana itu.
Setelah masuk fase research serius (dan sedikit panic scrolling), aku baru benar-benar memahami satu konsep penting di negara dingin:
    "layering is not optional. It’s survival."
Dan di titik ini aku ingin sedikit sarkas dengan penuh cinta tentunya.
Kalau ada yang bilang:
    “Ah nggak perlu layering, yang penting jacket branded mahal pasti hangat.”
Silakan langsung booking flight ke Arctic Circle di bulan Januari…
dan mari kita lihat apakah teori itu masih bertahan setelah 10 menit berdiri di suhu minus belasan derajat 🙂
Because honestly, di suhu seperti itu, brand name tidak terlalu peduli sama kamu.
Thermal layer does.

🧣 Thermal Base Layer (unexpected hero)
Ada banyak brand thermal base layer di market, dari yang technical sampai premium outdoor brands.
Tapi jujur saja, yang paling practical dan surprisingly affordable menurutku tetap: Uniqlo.
Aku ambil versi paling hangat mereka (ultra warm) dan itu benar-benar kepakai setiap hari.
Thermal ini menjaga panas tubuh dengan stabil jadi kita tetap bisa layering tanpa merasa seperti michelin mascot.

🧦 Thermal Socks & Reality Check
Untuk thermal socks, aku juga pilih dari Uniqlo karena:
    - mudah dicari
    - harga masih reasonable
    - cukup hangat untuk city walking
Kecuali untuk suami.
Karena ukuran kaki beliau masuk kategori giant mode, pilihan socks jadi jauh lebih terbatas 😅
Akhirnya kami harus sedikit upgrade budget dan beli thermal socks dari brand lain yang punya ukuran lebih besar.
Lesson learned:
winter trip juga soal kompatibilitas ukuran, bukan cuma style.

🔥 Sole Warmers (tiny item, massive impact)
Salah satu pembelian paling underrated sebelum trip ini adalah: sole warmer (penghangat telapak kaki).
Kami beli di Jerman sebelum berangkat, dan honestly ini lifesaver.
Tinggal tempel di dalam sepatu, dan kaki tetap hangat selama berjam-jam.
Sebagai gadis tropikal yang bahkan di suhu 15°C saja sudah mulai menggigil, ini benar-benar game changer.
Karena ada fakta pribadi yang mungkin terlalu jujur tapi sangat real:
    kalau kakiku dingin sedikit saja… hasilnya langsung beser mode activated alias harus cari toilet terus 🤣
So yes, warm feet = peaceful travel experience.
Kalian bisa beli disini Sole warmer

🔋 Electric Hand Warmer — small gadget, big comfort
Item lain yang surprisingly sangat berguna adalah: electric hand warmer.
Tangan biasanya bagian tubuh yang paling cepat dingin, bahkan ketika sudah pakai sarung tangan.
Dan ada satu masalah klasik yang mungkin semua orang alami saat winter trip:
    banyak sarung tangan tidak touchscreen friendly.
Artinya setiap kali mau:
    - cek maps
    - balas pesan
    - atau yang paling penting… mengabadikan moment dengan kamera HP
kita harus copot sarung tangan dulu.
Dalam suhu minus, itu bukan keputusan yang menyenangkan 😅
Di sinilah electric hand warmer jadi penyelamat kecil.
Begitu tangan mulai dingin, tinggal pegang hand warmer beberapa menit dan rasanya langsung balik normal lagi.
Simple gadget, tapi jujur saja salah satu hal yang membuat aurora hunting dan city walk jauh lebih nyaman.
Kalian bisa beli disini Hand Warmer

Pada akhirnya aku sadar:
packing untuk Arctic winter bukan tentang terlihat fashionable.
Ini tentang memahami lingkungan yang berbeda, beradaptasi, dan sedikit menurunkan ego fashion demi kenyamanan.

Dan percaya atau tidak justru setelah layering dengan benar, kita bisa menikmati trip tanpa constantly mikirin dingin.
Which turns out to be the real luxury.





Comments